KELAKUAN Mbah Rusdi, 68, sungguh terkutuk sampai dua kali. Bagaimana tidak? Menyetubuhi ponakan saja sudah dosa, kok malah dilakukan selepas salat pula. Kasus “ponakan buat penak-penakan” ini makin menjadi masalah ketika si janda Ruminah, 35, hamil. Tak ayal Mbah Rusdi jadi urusan Polresta Pekan Baru.
Talak atau bercerai adalah perbuatan halal yang sangat dibenci Allah
Swt. Soalnya dampaknya bisa ke mana-mana. Jikalau ada keturunan,
anak-anak hasil kerjasama nirlaba tersebut praktis akan menjadi korban.
Ikut ayah atau ikut ibu? Ikut bapak bisa dimakan ibu tiri, ikut emak
bisa diterkam ayah tiri. Kalaupun tidak ada anak, kebanyakan si wanita
akan lebih banyak jadi sorotan dalam masyarakat. Belum lagi jika ketemu
lelaki monster pemburu janda.
Ternyata, Mbah Rusdi bagian dari monster itu. Meski usia sudah
menjelang kepala tujuh, dia masih hobi banget dalam urusan wanita.
Maklum, istrinya di rumah sudah tua juga, umurnya sudah over suwid
(lebih dari suwidak = 60 tahun). Jadi ibarat mobil, sudah termasuk tahun
tua, bodi sudah banyak dempul isamunya. Apa lagi blok mesin, banyak
yang bocor, olie ke mana-mana. Jadi memang tak lagi nyaman dikendarai.
Di kala Mbah Rusdi tengah haus wanita, eh…..salah seorang ponakannya
gagal dalam rumahtangga. Akibatnya, Ruminah yang merupakan anak daripada
kakak Mbah Rusdi menjadi tanggungannya. Untung saja si janda tidak
membawa anak, sehingga tidak begitu berat menambah beban ekonomi bagi
keluarga si kakek. “Karena ini sudah kewajibanku, kamu tinggal di sini
saja. Makan pakai garam nggak apa-apa kan?” kata Mbah Rusdi
berbasa-basi.
Dengan tenang janda Ruminah bisa tinggal di rumah pamannya, di
kampung Marpoyan Damai, Pekan Baru (Riau). Sebagai lazimnya orang
numpang, si janda muda itu juga ikut kerja bantu-bantu urusan rumah,
dari masak, mencuci sampai nyapu-nyapu seputar rumah. Tekad Ruminah,
tinggal di sini hanya sementara saja. Nanti jika pikiran sudah
benar-benar temata (tenang), akan mencari pekerjaan baru, sehingga bisa
hidup mandiri tanpa menjadi beban sang paman.
Beda pikiran ponakan, beda pula pikiran paman. Seminggu dua minggu
ditinggali ponakan, lama-lama kok ada perasaan lain dalam dirinya.
Disimak dan disimak, penampilan Ruminah kok menggamit rasa dan
merangsang pandang juga. Seakan lupa bahwa janda itu adalah darah daging
sendiri, sampailah kemudian Mbah Rusdi pada kesimpulan: Ruminah memang
enak dikeloni dan perlu. Ketika hati nurani mengingatkan, setan pun
membantah, “Ponakan buat penak-penakan nggak papa.”
Mbah Rusdi yang sudah sekian lama “gencatan senjata”, demikian ingin
menjajal kembali kemampuan dirinya. Calon presiden saja meski tua boleh
ikut, apa lagi ini hanya urusan keperempuanan. Maka sejak itu Mbah Rusdi
selalu berpikir, kapan timing yang tepat untuk mewujudkan ide-idenya
menjadi sebuah karya nyata. Pokoknya Mbah Rusdi nggak mau kalah sama
Gubernur Jokowi dari Jakarta, bat bet dan cekat-ceket (gerak cepat).
Kesempatan itu tiba saat Ruminah baru salat subuh. Begitu dia selesai
dan melepas rukuh, Mbah Rusdi langsung menyergapnya, hip……! Sijanda
meronta, tapi si paman terus memaksa minta dilayani hubungan intim bak
suami istri. Takut ancaman dan statusnya hanya numpang, akhirnya Ruminah
bertekuk lutut dab berbuka paha juga. Maka pagi itu Mbah Rusdi sukses
melancarkan aksinya. Wajahnya menjadi nampak sumringah, berbinar-binar
menyambut merahnya langit pagi di ufuk timur.
Sekali berbuat dosa, mustinya jangan diulangi. Ternyata Mbah Rusdi
malah ketagihan. Tidak mandang pagi atau siang, bila kepengin Ruminah
diajak bersetubuh bak suami istri, sehingga lama-lama menjadi sebuah
rutinitas. Dampaknya tentu saja, janda muda itu hamil. Gegerlah warga
Desa Marpoyan Damai. Ketika diketahui pelakunya paman sendiri, Mbah
Rusdi pun dilaporkan ke Polresta Pakan Baru dan ditangkap.
Ada Hawk AURI jatuh, ini malah “pesawat” sikakek menjatuhi janda. (JPNN/Gunarso TS)
Source : POSKOTAnews.com

