lazada

Sabtu, 29 Desember 2012

Ponakan Buat Penak-Penakan


KELAKUAN Mbah Rusdi, 68, sungguh terkutuk sampai dua kali. Bagaimana tidak? Menyetubuhi ponakan saja sudah dosa, kok malah dilakukan selepas salat pula. Kasus “ponakan buat penak-penakan” ini makin menjadi masalah ketika si janda Ruminah, 35, hamil. Tak ayal Mbah Rusdi jadi urusan Polresta Pekan Baru.

Talak atau bercerai adalah perbuatan halal yang sangat dibenci Allah Swt. Soalnya dampaknya bisa ke mana-mana. Jikalau ada keturunan, anak-anak hasil kerjasama nirlaba tersebut praktis akan menjadi korban. Ikut ayah  atau ikut ibu? Ikut bapak bisa dimakan ibu tiri, ikut emak bisa diterkam ayah tiri. Kalaupun tidak ada anak, kebanyakan si wanita akan lebih banyak jadi sorotan dalam masyarakat. Belum lagi jika ketemu lelaki monster pemburu janda.

Ternyata, Mbah Rusdi bagian dari monster itu. Meski usia sudah menjelang kepala tujuh, dia masih hobi banget dalam urusan wanita. Maklum, istrinya di rumah sudah tua juga, umurnya sudah over suwid (lebih dari suwidak = 60 tahun). Jadi ibarat mobil, sudah termasuk tahun tua, bodi sudah banyak dempul isamunya. Apa lagi blok mesin, banyak yang bocor, olie ke mana-mana. Jadi memang tak lagi nyaman dikendarai.

Di kala Mbah Rusdi tengah haus wanita, eh…..salah seorang ponakannya gagal dalam rumahtangga. Akibatnya, Ruminah yang merupakan anak daripada kakak Mbah Rusdi menjadi tanggungannya. Untung saja si janda tidak membawa anak, sehingga tidak begitu berat menambah beban ekonomi bagi keluarga si kakek. “Karena ini sudah kewajibanku, kamu tinggal di sini saja. Makan pakai garam nggak apa-apa kan?” kata Mbah Rusdi berbasa-basi.

Dengan tenang janda Ruminah bisa tinggal di rumah pamannya, di kampung Marpoyan Damai, Pekan Baru (Riau). Sebagai lazimnya orang numpang, si janda muda itu juga ikut kerja bantu-bantu urusan rumah, dari masak, mencuci sampai nyapu-nyapu seputar rumah. Tekad Ruminah, tinggal di sini hanya sementara saja. Nanti jika pikiran sudah benar-benar temata (tenang), akan mencari pekerjaan baru, sehingga bisa hidup mandiri  tanpa menjadi beban sang paman.

Beda pikiran ponakan, beda pula pikiran paman. Seminggu dua minggu ditinggali ponakan, lama-lama kok ada perasaan lain dalam dirinya. Disimak dan disimak, penampilan Ruminah kok menggamit rasa dan merangsang pandang juga. Seakan lupa bahwa janda itu adalah darah daging sendiri, sampailah kemudian Mbah Rusdi pada kesimpulan: Ruminah memang enak dikeloni dan perlu. Ketika hati nurani mengingatkan, setan pun membantah, “Ponakan buat penak-penakan nggak papa.”

Mbah Rusdi yang sudah sekian lama “gencatan senjata”, demikian ingin menjajal kembali kemampuan dirinya. Calon presiden saja meski tua boleh ikut, apa lagi ini hanya urusan keperempuanan. Maka sejak itu Mbah Rusdi selalu berpikir, kapan timing yang tepat untuk mewujudkan ide-idenya menjadi sebuah karya nyata. Pokoknya Mbah Rusdi nggak mau kalah sama Gubernur Jokowi dari Jakarta, bat bet dan cekat-ceket (gerak cepat).

Kesempatan itu tiba saat Ruminah baru salat subuh. Begitu dia selesai dan melepas rukuh, Mbah Rusdi langsung menyergapnya, hip……! Sijanda meronta, tapi  si paman terus memaksa minta dilayani hubungan intim bak suami istri. Takut ancaman dan statusnya hanya numpang, akhirnya Ruminah bertekuk lutut dab berbuka paha juga. Maka pagi itu Mbah Rusdi sukses melancarkan aksinya. Wajahnya menjadi nampak sumringah, berbinar-binar menyambut merahnya langit pagi di ufuk timur.

Sekali berbuat dosa, mustinya jangan diulangi. Ternyata Mbah Rusdi malah ketagihan. Tidak mandang pagi atau siang, bila kepengin Ruminah diajak bersetubuh bak suami istri, sehingga lama-lama menjadi sebuah rutinitas. Dampaknya tentu saja, janda muda itu hamil. Gegerlah warga Desa Marpoyan Damai. Ketika diketahui pelakunya paman sendiri, Mbah Rusdi pun dilaporkan ke Polresta Pakan Baru dan ditangkap.

Ada Hawk AURI jatuh, ini malah “pesawat” sikakek menjatuhi janda. (JPNN/Gunarso TS)

Source : POSKOTAnews.com